Generasi Muda dan ke-Dayak-an
Saya sebagai generasi muda Dayak merasa terpanggil untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan mempertahankan kebudayaan daerah terutama kebudayaan Dayak, dan saya berusaha untuk memposisikan diri sebagai “Orang Dayak”, bukan sebagai “orang Dayak Ngaju atau Dayak Maanyan atau Dayak Kanayatn atau Dayak Iban atau Dayak Kayan”, saya ingin sebagai “Orang Dayak Kalimantan” yang terlepas dari dikotomi dan sel-sel “Sub-Suku” sehingga saya boleh mempresentasikan Kedayakan tersebut secara Global.
Masih banyak orang Dayak yang beranggapan bahwa "sub-suku/sub-tribe” merekalah yang terbaik diantara “sub-suku” yang lain, masih banyak “sub-suku” yang enggan menolong “sub-suku” yang lain dengan alas an klasik bahwa “sub-suku” mereka pernah berperang/Kayau
dengan “sub-suku” yang lain.
Suatu tugas yang sangat berat untuk dapat menyatukan “Visi dan Misi” seluruh penduduk asli Pulau Kalimantan ini, akan tetapi hal ini dipermudah dengan kehadiran Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) yang merupakan presentasi dari Bangsa Dayak di seluruh Indonesia.
Salah satu Misi MADN yaitu berusaha mengangkat harkat dan martabat Bangsa Dayak, dari segi pendidikan, kesehatan, ekonomi dan strata sosial dan yang lebih penting menjadikan Bangsa Dayak sebagai Tuan Rumah di Tanah Dayak, bukan sebagai suku yang terpinggirkan seperti Aborigin dan Indian. Membangkitkan semangat persatuan dan kesadaran anak muda Dayak untuk misi besar ini adalah tugas berat, sosialisasi harus selalu didengungkan, mencintai kebudayaan sendiri adalah salah satu solusi untuk mempertahankan eksistensi Dayak di Tanah Dayak dan di NKRI yang tercinta ini.
MUSDAT IV DAD KALBAR



MUSYAWARAH ADAT IV DEWAN ADAT DAYAK
KALIMANTAN BARAT
Pontianak, 19-21 Oktober 2010
Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.
Drs. Cornelis, MH Gubernur Kalimantan Barat, pada Musyawarah Adat IV Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat terpilih sebagai ketua umum secara aklamasi. MUSDAT IV DAD Kalbar berlangsung dari tanggal 19 s/d 21 November 2010 bertempat di hotel KINI Pontianak.
Terpilihnya Drs. Cornelis, MH secara aklamasi sudah terlihat dari pandangan umum 14 DAD Kabupaten/Kota se-kalbar. Ini terjadi pada sidang pleno ke lima dimana masing-masing DAD mengajukan satu nama untuk dijadikan calon ketua dan ke 14 DAD Kab/kota ternyata hanya mengajukan satu nama, yaitu Drs. Cornelis, MH.
Terpilihnya Cornelis sebagai ketua Umum DAD Kalimantan Barat untuk periode 2010-2015 tidak lepas dari semangat “Rumah Betang” yang diusung oleh seluruh peserta Musyawarah.. Semangat Rumah Betang ialah semangat persatuan yang selalu mengedepankan azas musyawarah menuju kemufakatan.
Setelah melewati beberapa tahapan, Drs. Cornelis, MH dikukuhkan secara adat (memakai adat sub suku Dayak Kanayatn) yaitu adat Siam Pahar. Oleh Deputy Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) wilayah Kalimantan Barat Bapak B.L. Atan Palil. Adat Siam Pahar diperuntukan bagi orang yang memangku jabatan penting di lembaga adat Dayak.
Cornelis, pada sambutan pertamanya sebagai ketua umum DAD Kalimantan Barat, mengatakan bahwa Dewan Adat Dayak harus dapat berperan aktif membangun bersama pemerintah, baik aspek pendidikan, kebudayaan, kesehatan, dan ekonomi. Lebih lanjut Cornelis mengatakan bahwa program kerja yang disusun harus lebih kepada pemberdayaan masyarakat Dayak sampai ke pelosok daerah.
Diharapkan dengan kepemimpinan Drs. Cornelis, MH. DAD Kalbar ke depan dapat berbuat lebih baik dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Dayak di Kalimantan dan secara khusus di Kalimantan Barat.
Burned Down The Dragons
Sebelum dibakar, beberapa naga mengadakan atraksi di lapangan depan areal makam. Prosesi ritual berlangsung tertib, aman dan terkendali. Pihak Keamanan (Polisi) di bantu oleh pengamanan swakarsa dari Panitia pelaksanan mengamankan ritual.






Pdt. Mardonius Blantan (Pendeta pertama suku DAYAK)
PDT. MARDONIUS BLANTAN
(Salah seorang Pendeta Pertama Gereja Kalimantan Evangelis)
Pdt. Mardonius Blantan adalah anak ke dua (II) dari tujuh (7) orang bersaudara, orang tua beliau bernama Albert Blantan adalah seorang guru lulusan Seminari Depok Betawi dan menjadi Demang Kepala adat sekaligus Kepala Daerah Dusun Timur Tamiang Layang dan ibu beliau bernama Katarina
yang mempunyai anak sbb:
2. Mardonius
3. Hermine
4. Emilia
5. Emanda
6. Esra
7. Jeremia
Pada tahun 1933 dipanggil untuk melanjutkan pendidikan di sekolah pendeta di Banjarmasin.
Pada tanggal 04 April 1935 ditahbiskan bersama dengan empat (4) orang rekan beliau sebagai Pendeta pertama orang DAYAK di Kalimantan pada GEREJA DAJAK EVANGELIS. (yang oleh Pdt. Marko Mahin disebut sebagai "LIMA PENDEKAR DAYAK")
Kemudian beliau ditugaskan menjadi pendeta di Tewah Pupuh yang meliputi daerah:
2. Tabalong
3. Hulu Sungai
Pelayanan dipusatkan di Tamiang Layang (Resort) yang meliputi daerah :
2. Paju Epat (Telang)
3. Paku Karau (Ampah)
4. Banua Lima
5. Tabalong
6. Hulu Sungai
Sampai dengan batas Bentot, Buntok dan Muara Teweh.
Pada pelayana ini beliau dibantu oleh para "pemberita" (Penginjil), yaitu :
Daerah Tabalong : Mursalim
Paju Epat : Rodol Bukit dan Andros Susi
Tamiang Layang : Abel Sanggen
Paku Karau : Alfrit Halim
Dan pada tanggal 15 Juli 1980 beliau dipanggil oleh TUHAN, Bapa yang selalu menjadi dijadikan Beliau sebagai Batu Karang yang membuat Beliau selalu kuat dalam pelayanan.
Beliau meninggalkan seorang istri yang sangat setia mendampingi Beliau dalam pelayanan, seorang istri yang penuh dedikasi menyerahkan hidup dan dirinya untuk pekerjaan TUHAN.
Istri Beliau Ny. Wihellie Anggen meninggal pada tahun 2003 dalam usia 94 tahun.
Demikian Riwayat singkat perjalanan Hidup dan Pelayanan Pdt. Mardonius Blantan.
Tulisan ini ditulis oleh FERRY TUAHNU WANING, berdasarkan penuturan Ibunda Anna Emelia Blantan-Waning
dan Bibinda Maritje Blantan-Hangat.
Didedikasikan kepada :
2. Almarhum Pamanda OSCAR BLANTAN
3. Bibinda MARITJE BLANTAN
4. Ibunda ANNA EMELIA BLANTAN
5. Bibinda CONELIA BLANTAN
6. Almarhum Pamanda JOHANES ADRIANUS BLANTAN
7. Almarhum Pamanda MARKUS BLANTAN dan almarhum Bibinda JULIDA BLANTAN (Kembar)
8. Bibinda ROSALINE BLANTAN
9. Bibinda SOPHIA BLANTAN
10. Bibinda YANIKA BLANTAN
11. Saudara-saudara ku yang terkasih dalam TUHAN YESUS KRISTUS
serta seluruh keluarga besar BLANTAN dimana pun berada.
Natal Warga KALTENG di Pontianak
Warga Kalteng yang berkesempatan hadir pada acara tersebut diperkirakan kurang lebih 200 orang, berikut undangan termasuk dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak.
Perayaan berlangsung meriah, diawali dengan kebaktian dipimpin oleh Bpk. Chris P. Tandayu dan khotbah oleh Bpk. Pdt. Imanuel Suryasukma. Setelah selesai Kebaktian dilanjutkan dengan Acara Ramah Tamah yang sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar Warga Kalteng yang ada di Pontianak dan sekitar. Uang Kolekte dan sumbangan spontan dari warga Kalteng disumbangkan untuk pembangunan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) "Pintu Elok" Pontianak sebesar Rp.4,1 Juta
Pesan Natal untuk tahun ini intinya agar seluruh warga Kalteng yang ada di Kalbar turut serta dalam pembangunan diberbagai bidang dimanapun berada, tapi juga tidak lupa akan tanah leluhur...
Kepengurusan KEWARKAT Periode 2010-2012 dipimpin oleh Bpk. Edy Budiman Dahing, Sekretaris Bpk. Bastian dan Bendahara Ibu Eka Kawirayu.
Isen Mulang.
Jari Janang Kalalawah.

Wawancara Ketua KEWARKAT Bpk. Edy Budiman Dahing dengan TVRI didampingi Ibu Dolly (Wkl. Ketua) dan Bpk. Bastian (Sekretaris)

Firman TUHAN disampaikan oleh Bpk. Pdt. Imanuel Suryasukma, S.Th.

Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak hadir dalam acara ini

Sumbangan Koor oleh keluarga besar MIHING

Penyalaan Lilin oleh salah seorang sesepuh Warga Kalteng, Bpk. Hugo Mungok.
Merry Christmas
Dayak Borneo Cultural Heritage Safari
Sebuah even besar kembali digelar oleh Sarawak Dayak National Union (SDNU) –Malaysia bekerjasama dengan Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) dan Dewan Adat Dayak (DAD)-Indonesia Kalimantan Barat.
Kegiatan ini ialah suatu tour kebudayaan yang dilakukan oleh saudara-saudara DAYAK Sarawak Malaysia dalam melakukan kunjungan ke Kalimantan Barat Indonesia. Sebelum sampai di Kota Pontianak sebagai tempat puncak acara, rombongan yang berjumlah kurang lebih 100 orang dengan 15 kendaraan roda empat mengunjungi terlebih dahulu Kabupaten Sanggau, Landak, Bengkayang, Singkawang dan berakhir di Kota Pontianak.
Hadir dalam acara ini Menteri Pembangunan Urbanisasi Negeri Serawak, Dato Sri William Mawan Anak Ikom, yang menyusul ke Pontianak menggunakan pesawat Jet. Hadir pula Pengurusi Dayak Chamber of Commerce and Industry Tan Sri Dato Amar Leo Moggie Anak Irok, Sekretaris Jenderal SDNU yang juga ketua rombongan Dr. John Brain, Tokoh Dayak Sarawak Dato Daniel Tajem Anak Miri dan Dato Edmund Langgu. Dan tak ketinggalan teman saya yang sangat sibuk mengurus rombongan yaitu Bapak Alim (US BORNEO). Senang sekali dapat berjumpa dengan teman yang selama ini hanya berhubungan lewat Internet (http://dayak_world.ning.com). Boleh bertukar pikiran dan sharing tentang segala macam about Our Tribe “DAYAK”.
Kegiatan berlangsung dari tanggal 18-23 September 2009. Pada tanggal 21 mulai jam 19.00 WIB rombongan mengadakan jamuan makan malam (Barbeque) dan beramah tamah dengan Panitia penyambutan termasuk pengurus DAD dan MADN di Rumah Betang Jl. Sutoyo Pontianak. Acara diisi dengan menyanyi bersama dan karaoke.
Besoknya hari Selasa (22/09), rombongan diterima oleh Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH di Rumah Gubernur. Dan Gubernur berkenan manjamu rombongan untuk makan siang bersama. Pada kesempatan yang berbahagia ini Gubernur mengungkapkan kegembiraannya, dengan adanya kegiatan ini ajang silaturahmi antar etnis DAYAK yang ada di TANAH DAYAK, baik yang dari Sarawak Malaysia maupun yang ada di Kalimantan Barat Indonesia semakin terjalin dengan erat. Gejolak yang terjadi anatar Malaysia dan Indonesia, diharapkan tidak mempengaruhi hubungan etnis DAYAK KALBAR dan DAYAK SARAWAK yang telah terjalin sejak nenek moyang dahulu, dan Beliau mengharapkan kegiatan pertukaran seni dan budaya ini dapat terus dilaksanakan. “Kegiatan seperti ini memang sudah lama kita nantikan. Selain bermanfaat untuk meningkatkan interaksi budaya dan kesepahaman masyarakat DAYAK, juga berguna meningkatkan semangat persatuan sebagai spirit membangun kebersamaan anatara etnis dan Negara”.
Dato Sri William Mawan Anak Ikom dalam sambutannya juga mengungkapkan kegembiraan. Menurut Beliau Kalbar dan Sarawak adalah dua Negara yang berada dalam satu Pulau. Rumpun dan kebudayaan antara kedua belah pihak tidak jauh berbeda, perbedaan hanya pada bendera Negara. “Saya harap dengan adanya DAYAK BORNEO CULTURE HARITAGE SAFARI ini, hubungan antara Sarawak Malaysia dan Kalbar Indonesia semakin erat dan terus terjalin samapi kapanpun”.
Malam harinya bertempat di Hotel Kapuas Palace Pontianak, diadakan serah terima naskah MoU antara MADN dan SDNU, pada kesempatan ini Dato Sri William Mawan Anak Ikom mengatakan, aspek sosial budaya haruslah diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua Negara.
Biarlah orang ribut tentang tari Pendet, angklung dan Ambalat, tapi persatuan antar suku DAYAK biarlah tetap langgeng, kekal dan abadi tanpa melihat batasan Negara. TANAH DAYAK adalah PULAU KALIMANTAN-BORNEO, yang penduduk aslinya adalah Bangsa DAYAK.
Jari Janang Kalalawah.
Jayalah Dayak Selamanya.
TITIK KULMINASI DI TANAH DAYAK
Kota Pontianak tepat berada pada garis khatulistiwa (equator) dan ditandai dengan berdirinya tugu khatulistiwa. Titik lintasan equator ini ditemukan oleh para tim ilmuwan Belanda pada tahun 1928 dan pada tahun 1938 “titik” tersebut di renovasi oleh seorang arsitek Indonesia bernama Sylaban. Di Kota ini ada kejadian alam yang sangat menarik dan memang hanya ada di garis khatulistiwa, yaitu Kulminasi (Solar eclipse during the vernal and autumnal equinoxes 21-23 March and September). Dan terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan September setiap tahunnya. Jika matahari bergerak menjelang tengah hari semua benda yang berada disekitar tugu tidak memiliki bayangan, fenomena alam ini berlangsung sekitar 10-15 menit. Tugu ini juga berdiri persis di tepi sungai terpanjang di Indonesia, yaitu sungai Kapuas (1.143 Km) yang mengalir dari tengah jantung pulau Kalimantan yang dikenal sebagai Tanah Dayak.
GAWAI DAYAK 2009 SIAP DIGELAR
Malam Seni Betang Raya

Dalam acara ini di tampilkan tari-tarian, lagu-lagu Dayak, dan peragaan busana kreasi pakaian tradisional adat Dayak yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu busana yang elegan dan cantik. Acara ini juga didukung oleh Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Kalimantan Barat. Adapun dasar dari pelaksanaan acara ialah penggalangan dana untuk membangun Rumah Adat Dayak Kalimantan Barat yang lebih presentatif, dikarenakan Rumah Adat Betang yang ada sekarang ini tidak lagi mampu menampung berbagai kegiatan besar seperti Gawai Dayak yang setiap tahun menjadi agenda tahunan Sekberkesda.

Gawai Dayak yang setiap tahunnya selalu bertambah ramai, dikarenakan setiap kabupaten yang ada di Kalimantan Barat antusias untuk mengikutinya. Itulah salah satu alasan diadakannya malam apresiasi seni ini,

sebagai malam panggalangan dana guna terwujudnya impian masyarakat Dayak Kalimantan Barat untuk mempunyai rumah adat (Betang) yang juga akan dijadikan sebagai “Dayak Centre”, dimana semua kegiatan kebudayaan dan berkesenian seluruh masyarakat Dayak dapat dipusatkan disuatu areal yang lebih luas dan lebih baik.

CAP GO MEH di TANAH DAYAK

Perayaan Cap Go Meh di Tanah Dayak Kalimantan (Pontianak) diadakan pada tanggal 9 Februari 2009. Pembukaan acara diadakan di Lapangan Keboen Sajoek Pontianak dengan diikuti oleh delapan (8) Naga dari berbagai perkumpulan sosial Tionghoa. Acara juga dimeriahkan oleh Drum Band dari Asosiasi Pemadam Kebakaran Swasta Kota Pontianak dan SMU 1 Pontianak serta tarian dari etnis Dayak, Melayu dan Tionghoa.
Acara dihadiri oleh Wakil Walikota Pontianak dan unsur Muspida lainnya serta tokoh-tokoh masyarakat yang ada di kota Pontianak.

Atraksi naga dimulai dari jam 13.00 di jalan Gajah Mada yang memang ditutup sementara untuk memberi kesempatan kepada Naga-naga unjuk kebolehan. Masyarakat yang hadir berjumlah ribuan orang memadati ruas jalan ini dari Perempatan sebelah barat sampai perempatan sebelah timur.

Banyak turis manca Negara dan domestic yang datang khusus untuk melihat puncak perayaan Cap Go Meh ini, tapi lebih didominasi oleh turis domestic dari pulau Jawa, seperti Surabaya, Semarang, Jogjakarta dan Solo.

Even ini diharapkan dapat menjaring banyak wisatawan dari manca Negara, dan diharapkan juga agar masyarakat kota Pontianak dapat menjaga kondusifitas keamanan sesuai dengan pesan dari Walikota Pontianak.

Pada tanggal 10 February diadakan ritual “Tutup Mata” bagi naga-naga yang telah melaksanakan atraksi, naga-naga tersebut kemudian dibakar di lokasi pemakaman Tionghoa di daerah Kabupaten Kubu Raya sekitar 7 km dari kota Pontianak.
Natal Dayak di Pontianak


Fantastik..., terharu dan bangga melihat masyarakat Dayak yang datang pada malam perayaan Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 bagi masyarakat Dayak yang ada di Kota Pontianak dan sekitar pada hari Senin tanggal 12 Januari 2009 di Rumah kediaman Gubernur Kalimantan Barat, yang dicanangkan oleh Gubernur sebagai "Rumah Rakyat".Acara berlangsung hikmat, yang dipimpin oleh Pastor Nicodemus, C.P. dan Pendeta Mesakh Amen, S.Th. Terlihat pembauran semua lapisan masyarakat Dayak pada acara ini, Tak ada perbedaan antara para pejabat dan masyarakat biasa, semuanya mengusung kebersamaan untuk memuji dan memuliakan Tuhan Yesus dan bersatu hati dalam ikatan teguh sebagai Anak-anak Allah dan sebagai "ORANG DAYAK" tanpa membedakan dari mana asalnya dan dari sub suku mana.
Hadir dalam acara tersebut, Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH beserta Ibu, Wakil Gubernur Christiandi Sanjaya beserta Ibu, Uskup Agung Pontianak, Ketua Persatuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah Kalimantan Barat, Ketua Dewan Adat Dayak Propinsi Kalimantan Barat, Ketua Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Kalimantan Barat, Para Pendeta, Pastor, Suster, Bruder dan Tokoh-tokoh masyarakat Dayak yang ada di kota Pontianak.
Gubernur dalam kata sambutannya mengatakan bahwa semua orang Dayak harus dapat bekerja keras, cerdik, pintar dan mempunyai daya saing dengan orang-orang dilingkungannya masing-masing baik dilingkungan pekerjaan maupun di masyarakat, agar dapat menjadi sumber daya manusia yang hebat dalam menghadapi krisis global, krisis ekonomi dan krisi moral.
Kegiatan ini merupakan agenda tetap tahunan Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak. Dan pada tahun ini Dewan Adat Dayak Kota Pontianak membentuk suatu kepanitiaan yang menggabungkan beberapa unsur seperti dari kalangan birokrat, pengurus adat dan tokoh masyarakat. Kepanitiaan ini diketuai oleh dr. Karolin Margret Natasa.
Masyarakat yang hadir pada acara ini diperkirakan sekitar 5.000 orang lebih, sehingga membuat kewalahan Panitia Pelaksana, hal ini diungkapkan oleh Ketua Panitia Pelaksana dr. Karolin Margret Natasa dalam kata sambutannya yang semula memperkirakan undangan yang hadir sekitar 1.500 orang. Tapi ini adalah suatu indikasi yang sangat baik, yang menunjukan kekompakan orang Dayak dalam persatuan untuk menunjukan eksistensi dan keberadaan orang Dayak di Indonesia dan Dunia.
DEWAN ADAT DAYAK KOTA PONTIANAK BESERTA PENGURUS
DAN PANITIA NATAL DAYAK
MENGUCAPKAN
"SELAMAT HARI NATAL 25 DESEMBER 2008
dan
TAHUN BARU 2009"








