TITIK KULMINASI DI TANAH DAYAK

Kota Pontianak tepat berada pada garis khatulistiwa (equator) dan ditandai dengan berdirinya tugu khatulistiwa. Titik lintasan equator ini ditemukan oleh para tim ilmuwan Belanda pada tahun 1928 dan pada tahun 1938 “titik” tersebut di renovasi oleh seorang arsitek Indonesia bernama Sylaban. Di Kota ini ada kejadian alam yang sangat menarik dan memang hanya ada di garis khatulistiwa, yaitu Kulminasi (Solar eclipse during the vernal and autumnal equinoxes 21-23 March and September). Dan terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan September setiap tahunnya. Jika matahari bergerak menjelang tengah hari semua benda yang berada disekitar tugu tidak memiliki bayangan, fenomena alam ini berlangsung sekitar 10-15 menit.

Tugu ini juga berdiri persis di tepi sungai terpanjang di Indonesia, yaitu sungai Kapuas (1.143 Km) yang mengalir dari tengah jantung pulau Kalimantan yang dikenal sebagai Tanah Dayak.

GAWAI DAYAK 2009 SIAP DIGELAR

Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (SEKBERKESDA) Kalimantan Barat telah membentuk Panitia Pelaksana Pekan Gawai Dayak tahun 2009. Panitia telah mulai bekerja untuk pelaksanaan acara tersebut.

Tunggu berita dahsyat dari PEKAN GAWAI DAYAK 2009.

Malam Seni Betang Raya

Malam Apresiasi Seni Betang Raya

Sekberkesda (Sekretariat Bersama Kesenian Dayak) Kalimantan Barat bekerja sama dengan lembaga Betang Centre mengadakan malam apresiasi seni selama dua (2) malam berturut-turut, tanggal 07 dan 08 Februari 2009 bertempat di Café Betang kompleks Rumah Adat Dayak Betang Jalan Sutoyo Pontianak.

Dalam acara ini di tampilkan tari-tarian, lagu-lagu Dayak, dan peragaan busana kreasi pakaian tradisional adat Dayak yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu busana yang elegan dan cantik. Acara ini juga didukung oleh Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Kalimantan Barat. Adapun dasar dari pelaksanaan acara ialah penggalangan dana untuk membangun Rumah Adat Dayak Kalimantan Barat yang lebih presentatif, dikarenakan Rumah Adat Betang yang ada sekarang ini tidak lagi mampu menampung berbagai kegiatan besar seperti Gawai Dayak yang setiap tahun menjadi agenda tahunan Sekberkesda.

Gawai Dayak yang setiap tahunnya selalu bertambah ramai, dikarenakan setiap kabupaten yang ada di Kalimantan Barat antusias untuk mengikutinya. Itulah salah satu alasan diadakannya malam apresiasi seni ini,

sebagai malam panggalangan dana guna terwujudnya impian masyarakat Dayak Kalimantan Barat untuk mempunyai rumah adat (Betang) yang juga akan dijadikan sebagai “Dayak Centre”, dimana semua kegiatan kebudayaan dan berkesenian seluruh masyarakat Dayak dapat dipusatkan disuatu areal yang lebih luas dan lebih baik.

CAP GO MEH di TANAH DAYAK


Cap Go berarti lima belas, Meh berarti malam. Cap Go Meh jika secara harfiah dapat diartikan malam ke lima belas. Cap Go Meh menurut tradisi Tionghoa adalah sebagai puncak perayaan atau penutupan rangkaian acara tahun baru IMLEK.
Perayaan Cap Go Meh di Tanah Dayak Kalimantan (Pontianak) diadakan pada tanggal 9 Februari 2009. Pembukaan acara diadakan di Lapangan Keboen Sajoek Pontianak dengan diikuti oleh delapan (8) Naga dari berbagai perkumpulan sosial Tionghoa. Acara juga dimeriahkan oleh Drum Band dari Asosiasi Pemadam Kebakaran Swasta Kota Pontianak dan SMU 1 Pontianak serta tarian dari etnis Dayak, Melayu dan Tionghoa.
Acara dihadiri oleh Wakil Walikota Pontianak dan unsur Muspida lainnya serta tokoh-tokoh masyarakat yang ada di kota Pontianak.


Atraksi naga dimulai dari jam 13.00 di jalan Gajah Mada yang memang ditutup sementara untuk memberi kesempatan kepada Naga-naga unjuk kebolehan. Masyarakat yang hadir berjumlah ribuan orang memadati ruas jalan ini dari Perempatan sebelah barat sampai perempatan sebelah timur.


Banyak turis manca Negara dan domestic yang datang khusus untuk melihat puncak perayaan Cap Go Meh ini, tapi lebih didominasi oleh turis domestic dari pulau Jawa, seperti Surabaya, Semarang, Jogjakarta dan Solo.


Even ini diharapkan dapat menjaring banyak wisatawan dari manca Negara, dan diharapkan juga agar masyarakat kota Pontianak dapat menjaga kondusifitas keamanan sesuai dengan pesan dari Walikota Pontianak.


Pada tanggal 10 February diadakan ritual “Tutup Mata” bagi naga-naga yang telah melaksanakan atraksi, naga-naga tersebut kemudian dibakar di lokasi pemakaman Tionghoa di daerah Kabupaten Kubu Raya sekitar 7 km dari kota Pontianak.

Natal Dayak di Pontianak








Fantastik..., terharu dan bangga melihat masyarakat Dayak yang datang pada malam perayaan Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 bagi masyarakat Dayak yang ada di Kota Pontianak dan sekitar pada hari Senin tanggal 12 Januari 2009 di Rumah kediaman Gubernur Kalimantan Barat, yang dicanangkan oleh Gubernur sebagai "Rumah Rakyat".

Acara berlangsung hikmat, yang dipimpin oleh Pastor Nicodemus, C.P. dan Pendeta Mesakh Amen, S.Th. Terlihat pembauran semua lapisan masyarakat Dayak pada acara ini, Tak ada perbedaan antara para pejabat dan masyarakat biasa, semuanya mengusung kebersamaan untuk memuji dan memuliakan Tuhan Yesus dan bersatu hati dalam ikatan teguh sebagai Anak-anak Allah dan sebagai "ORANG DAYAK" tanpa membedakan dari mana asalnya dan dari sub suku mana.

Hadir dalam acara tersebut, Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH beserta Ibu, Wakil Gubernur Christiandi Sanjaya beserta Ibu, Uskup Agung Pontianak, Ketua Persatuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah Kalimantan Barat, Ketua Dewan Adat Dayak Propinsi Kalimantan Barat, Ketua Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Kalimantan Barat, Para Pendeta, Pastor, Suster, Bruder dan Tokoh-tokoh masyarakat Dayak yang ada di kota Pontianak.

Gubernur dalam kata sambutannya mengatakan bahwa semua orang Dayak harus dapat bekerja keras, cerdik, pintar dan mempunyai daya saing dengan orang-orang dilingkungannya masing-masing baik dilingkungan pekerjaan maupun di masyarakat, agar dapat menjadi sumber daya manusia yang hebat dalam menghadapi krisis global, krisis ekonomi dan krisi moral.

Kegiatan ini merupakan agenda tetap tahunan Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak. Dan pada tahun ini Dewan Adat Dayak Kota Pontianak membentuk suatu kepanitiaan yang menggabungkan beberapa unsur seperti dari kalangan birokrat, pengurus adat dan tokoh masyarakat. Kepanitiaan ini diketuai oleh dr. Karolin Margret Natasa.

Masyarakat yang hadir pada acara ini diperkirakan sekitar 5.000 orang lebih, sehingga membuat kewalahan Panitia Pelaksana, hal ini diungkapkan oleh Ketua Panitia Pelaksana dr. Karolin Margret Natasa dalam kata sambutannya yang semula memperkirakan undangan yang hadir sekitar 1.500 orang. Tapi ini adalah suatu indikasi yang sangat baik, yang menunjukan kekompakan orang Dayak dalam persatuan untuk menunjukan eksistensi dan keberadaan orang Dayak di Indonesia dan Dunia.

DEWAN ADAT DAYAK KOTA PONTIANAK BESERTA PENGURUS
DAN PANITIA NATAL DAYAK
MENGUCAPKAN
"SELAMAT HARI NATAL 25 DESEMBER 2008
dan
TAHUN BARU 2009"
BAGI SEMUA MASYARAKAT DAYAK DI SELURUH DUNIA
TUHAN MEMBERKATI