Generasi Muda dan ke-Dayak-an


Suku bangsa Dayak yang merupakan penduduk asli Pulau Kalimantan (Borneo) sedikit demi sedikit mulai mengalami degradasi,pudarnya kebiasaan lokal yang arif (kearifan lokal/local wisdom), kurangnya minat anak muda untuk mempelajari adat istiadat dan kebudayaan serta kurangnya kepedulian pemerintah dalam mempertahankan kebudayaan asli yang diharapkan dapat menjadi benteng terakhir dari serbuan kebudayaan global yang kebanyakan bersifat merusak moral.

Saya sebagai generasi muda Dayak merasa terpanggil untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan mempertahankan kebudayaan daerah terutama kebudayaan Dayak, dan saya berusaha untuk memposisikan diri sebagai “Orang Dayak”, bukan sebagai “orang Dayak Ngaju atau Dayak Maanyan atau Dayak Kanayatn atau Dayak Iban atau Dayak Kayan”, saya ingin sebagai “Orang Dayak Kalimantan” yang terlepas dari dikotomi dan sel-sel “Sub-Suku” sehingga saya boleh mempresentasikan Kedayakan tersebut secara Global.

Masih banyak orang Dayak yang beranggapan bahwa "sub-suku/sub-tribe” merekalah yang terbaik diantara “sub-suku” yang lain, masih banyak “sub-suku” yang enggan menolong “sub-suku” yang lain dengan alas an klasik bahwa “sub-suku” mereka pernah berperang/Kayau
dengan “sub-suku” yang lain.

Suatu tugas yang sangat berat untuk dapat menyatukan “Visi dan Misi” seluruh penduduk asli Pulau Kalimantan ini, akan tetapi hal ini dipermudah dengan kehadiran Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) yang merupakan presentasi dari Bangsa Dayak di seluruh Indonesia.
Salah satu Misi MADN yaitu berusaha mengangkat harkat dan martabat Bangsa Dayak, dari segi pendidikan, kesehatan, ekonomi dan strata sosial dan yang lebih penting menjadikan Bangsa Dayak sebagai Tuan Rumah di Tanah Dayak, bukan sebagai suku yang terpinggirkan seperti Aborigin dan Indian. Membangkitkan semangat persatuan dan kesadaran anak muda Dayak untuk misi besar ini adalah tugas berat, sosialisasi harus selalu didengungkan, mencintai kebudayaan sendiri adalah salah satu solusi untuk mempertahankan eksistensi Dayak di Tanah Dayak dan di NKRI yang tercinta ini.

MUSDAT IV DAD KALBAR




MUSYAWARAH ADAT IV DEWAN ADAT DAYAK
KALIMANTAN BARAT
Pontianak, 19-21 Oktober 2010
Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.

Drs. Cornelis, MH Gubernur Kalimantan Barat, pada Musyawarah Adat IV Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat terpilih sebagai ketua umum secara aklamasi. MUSDAT IV DAD Kalbar berlangsung dari tanggal 19 s/d 21 November 2010 bertempat di hotel KINI Pontianak.

Terpilihnya Drs. Cornelis, MH secara aklamasi sudah terlihat dari pandangan umum 14 DAD Kabupaten/Kota se-kalbar. Ini terjadi pada sidang pleno ke lima dimana masing-masing DAD mengajukan satu nama untuk dijadikan calon ketua dan ke 14 DAD Kab/kota ternyata hanya mengajukan satu nama, yaitu Drs. Cornelis, MH.

Terpilihnya Cornelis sebagai ketua Umum DAD Kalimantan Barat untuk periode 2010-2015 tidak lepas dari semangat “Rumah Betang” yang diusung oleh seluruh peserta Musyawarah.. Semangat Rumah Betang ialah semangat persatuan yang selalu mengedepankan azas musyawarah menuju kemufakatan.

Setelah melewati beberapa tahapan, Drs. Cornelis, MH dikukuhkan secara adat (memakai adat sub suku Dayak Kanayatn) yaitu adat Siam Pahar. Oleh Deputy Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) wilayah Kalimantan Barat Bapak B.L. Atan Palil. Adat Siam Pahar diperuntukan bagi orang yang memangku jabatan penting di lembaga adat Dayak.

Cornelis, pada sambutan pertamanya sebagai ketua umum DAD Kalimantan Barat, mengatakan bahwa Dewan Adat Dayak harus dapat berperan aktif membangun bersama pemerintah, baik aspek pendidikan, kebudayaan, kesehatan, dan ekonomi. Lebih lanjut Cornelis mengatakan bahwa program kerja yang disusun harus lebih kepada pemberdayaan masyarakat Dayak sampai ke pelosok daerah.

Diharapkan dengan kepemimpinan Drs. Cornelis, MH. DAD Kalbar ke depan dapat berbuat lebih baik dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Dayak di Kalimantan dan secara khusus di Kalimantan Barat.

Burned Down The Dragons

Setelah kurang lebih satu minggu naga-naga yang dibuat untuk memeriahkan acara Cap Go Meh 2561 (2010) pada hari Senin (1/3) semuanya dibakar di kompleks pemakamam Tionghoa di Desa Sungai Raya Kab. Kubu Raya pada jam 15.00-selesai.

Sebelum dibakar, beberapa naga mengadakan atraksi di lapangan depan areal makam. Prosesi ritual berlangsung tertib, aman dan terkendali. Pihak Keamanan (Polisi) di bantu oleh pengamanan swakarsa dari Panitia pelaksanan mengamankan ritual.







Pdt. Mardonius Blantan (Pendeta pertama suku DAYAK)

Riwayat Hidup
PDT. MARDONIUS BLANTAN
(Salah seorang Pendeta Pertama Gereja Kalimantan Evangelis)

Pdt. Mardonius Blantan adalah salah seorang pendeta Pertama di Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yang pada mulanya bernama Gereja Dajak Evangelis (GDE).

Pdt. Mardonius Blantan adalah anak ke dua (II) dari tujuh (7) orang bersaudara, orang tua beliau bernama Albert Blantan adalah seorang guru lulusan Seminari Depok Betawi dan menjadi Demang Kepala adat sekaligus Kepala Daerah Dusun Timur Tamiang Layang dan ibu beliau bernama Katarina
yang mempunyai anak sbb:
1. Elisabet
2. Mardonius
3. Hermine
4. Emilia
5. Emanda
6. Esra
7. Jeremia

Pdt. Mardonius Blantan lahir di Tamiang Layang pada tanggal 13 Mei 1904, mendapatkan pendidikan di Seminari Banjarmasin, kemudian mengajar di Standar School Tamiang Layang dari tahun 1924 sampai dengan 1932.
Pada tahun 1933 dipanggil untuk melanjutkan pendidikan di sekolah pendeta di Banjarmasin.

Pada tanggal 04 April 1935 ditahbiskan bersama dengan empat (4) orang rekan beliau sebagai Pendeta pertama orang DAYAK di Kalimantan pada GEREJA DAJAK EVANGELIS. (yang oleh Pdt. Marko Mahin disebut sebagai "LIMA PENDEKAR DAYAK")
Kemudian beliau ditugaskan menjadi pendeta di Tewah Pupuh yang meliputi daerah:
1. Banua Lima
2. Tabalong
3. Hulu Sungai

Pada tahun 1940 pecah perang dunia ke II, pendeta-pendeta misionaris yang berasal dari Zending Bassel Swiss dipulangkan ke negeri asal mereka, pada tahun itu juga Pdt. Mardonius Blantan dipindahkan ke Tamiang Layang untuk melaksanakan pelayanan.
Pelayanan dipusatkan di Tamiang Layang (Resort) yang meliputi daerah :
1. Paju Sapuluh (Tamiang Layang)
2. Paju Epat (Telang)
3. Paku Karau (Ampah)
4. Banua Lima
5. Tabalong
6. Hulu Sungai
Sampai dengan batas Bentot, Buntok dan Muara Teweh.
Daerah ini sangat luas, dan hanya dilayani oleh 1 orang pendeta, transportasi yang ada pada waktu itu hanya Sepeda, tapi Beliau melayani TUHAN dengan tulus tanpa keluh dan kesah untuk memenangkan jiwa-jiwa masyarakat DAYAK yang masih hidup dengan kepercayaan asli (KAHARINGAN).
Pada pelayana ini beliau dibantu oleh para "pemberita" (Penginjil), yaitu :
Daerah Banua Lima : Johan Migang
Daerah Tabalong : Mursalim
Paju Epat : Rodol Bukit dan Andros Susi
Tamiang Layang : Abel Sanggen
Paku Karau : Alfrit Halim

Pada tahun 1957 beliau dipindahkan ke Banjarmasin menjadi Bapak Asrama di Sekolah Teologia dan menjadi dosen di Akademi Teologia sampai masa pensiun. Kembali lagi ke Tamiang Layang, tetap bertugas sebagai pendeta dan mengajar Pelajaran Agama Kristen di SMP dan SMA sampai beliau sakit-sakitan.
Dan pada tanggal 15 Juli 1980 beliau dipanggil oleh TUHAN, Bapa yang selalu menjadi dijadikan Beliau sebagai Batu Karang yang membuat Beliau selalu kuat dalam pelayanan.
Beliau meninggalkan seorang istri yang sangat setia mendampingi Beliau dalam pelayanan, seorang istri yang penuh dedikasi menyerahkan hidup dan dirinya untuk pekerjaan TUHAN.
Istri Beliau Ny. Wihellie Anggen meninggal pada tahun 2003 dalam usia 94 tahun.

Demikian Riwayat singkat perjalanan Hidup dan Pelayanan Pdt. Mardonius Blantan.
Tulisan ini ditulis oleh FERRY TUAHNU WANING, berdasarkan penuturan Ibunda Anna Emelia Blantan-Waning
dan Bibinda Maritje Blantan-Hangat.
Didedikasikan kepada :
1. Almarhum Pamanda FRANKLIN BLANTAN
2. Almarhum Pamanda OSCAR BLANTAN
3. Bibinda MARITJE BLANTAN
4. Ibunda ANNA EMELIA BLANTAN
5. Bibinda CONELIA BLANTAN
6. Almarhum Pamanda JOHANES ADRIANUS BLANTAN
7. Almarhum Pamanda MARKUS BLANTAN dan almarhum Bibinda JULIDA BLANTAN (Kembar)
8. Bibinda ROSALINE BLANTAN
9. Bibinda SOPHIA BLANTAN
10. Bibinda YANIKA BLANTAN
11. Saudara-saudara ku yang terkasih dalam TUHAN YESUS KRISTUS
serta seluruh keluarga besar BLANTAN dimana pun berada.

Natal Warga KALTENG di Pontianak

Kerukunan Warga Kalimantan Tengah (KEWARKAT) yang ada di Kota Pontianak Kalimantan Barat mengadakan Pesta Alem Brasih (Natal) dan Nyelu Taheta (Tahun Baru) yang diadakan pada tanggal 09 Januari 2010 pukul 17.00 - 20.00 wib, bertempat di Restoran Mutiara Jl. Gajahmada Pontianak.

Warga Kalteng yang berkesempatan hadir pada acara tersebut diperkirakan kurang lebih 200 orang, berikut undangan termasuk dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak.

Perayaan berlangsung meriah, diawali dengan kebaktian dipimpin oleh Bpk. Chris P. Tandayu dan khotbah oleh Bpk. Pdt. Imanuel Suryasukma. Setelah selesai Kebaktian dilanjutkan dengan Acara Ramah Tamah yang sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar Warga Kalteng yang ada di Pontianak dan sekitar. Uang Kolekte dan sumbangan spontan dari warga Kalteng disumbangkan untuk pembangunan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) "Pintu Elok" Pontianak sebesar Rp.4,1 Juta

Pesan Natal untuk tahun ini intinya agar seluruh warga Kalteng yang ada di Kalbar turut serta dalam pembangunan diberbagai bidang dimanapun berada, tapi juga tidak lupa akan tanah leluhur...

Kepengurusan KEWARKAT Periode 2010-2012 dipimpin oleh Bpk. Edy Budiman Dahing, Sekretaris Bpk. Bastian dan Bendahara Ibu Eka Kawirayu.

Isen Mulang.
Jari Janang Kalalawah.


Wawancara Ketua KEWARKAT Bpk. Edy Budiman Dahing dengan TVRI didampingi Ibu Dolly (Wkl. Ketua) dan Bpk. Bastian (Sekretaris)


Firman TUHAN disampaikan oleh Bpk. Pdt. Imanuel Suryasukma, S.Th.


Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak hadir dalam acara ini


Sumbangan Koor oleh keluarga besar MIHING


Penyalaan Lilin oleh salah seorang sesepuh Warga Kalteng, Bpk. Hugo Mungok.

Merry Christmas


Kepada seluruh netter's yang mengakses web site TANAH DAYAK, Saya mengucapkan selamat Hari Natal 25 Desember 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010.
TUHAN memberkati kita semua.

Dayak Borneo Cultural Heritage Safari

DAYAK BORNEO CULTURE HERITAGE SAFARI 2009

Sebuah even besar kembali digelar oleh Sarawak Dayak National Union (SDNU) –Malaysia bekerjasama dengan Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) dan Dewan Adat Dayak (DAD)-Indonesia Kalimantan Barat.

Kegiatan ini ialah suatu tour kebudayaan yang dilakukan oleh saudara-saudara DAYAK Sarawak Malaysia dalam melakukan kunjungan ke Kalimantan Barat Indonesia. Sebelum sampai di Kota Pontianak sebagai tempat puncak acara, rombongan yang berjumlah kurang lebih 100 orang dengan 15 kendaraan roda empat mengunjungi terlebih dahulu Kabupaten Sanggau, Landak, Bengkayang, Singkawang dan berakhir di Kota Pontianak.


Hadir dalam acara ini Menteri Pembangunan Urbanisasi Negeri Serawak, Dato Sri William Mawan Anak Ikom, yang menyusul ke Pontianak menggunakan pesawat Jet. Hadir pula Pengurusi Dayak Chamber of Commerce and Industry Tan Sri Dato Amar Leo Moggie Anak Irok, Sekretaris Jenderal SDNU yang juga ketua rombongan Dr. John Brain, Tokoh Dayak Sarawak Dato Daniel Tajem Anak Miri dan Dato Edmund Langgu. Dan tak ketinggalan teman saya yang sangat sibuk mengurus rombongan yaitu Bapak Alim (US BORNEO). Senang sekali dapat berjumpa dengan teman yang selama ini hanya berhubungan lewat Internet (http://dayak_world.ning.com). Boleh bertukar pikiran dan sharing tentang segala macam about Our Tribe “DAYAK”.

Kegiatan berlangsung dari tanggal 18-23 September 2009. Pada tanggal 21 mulai jam 19.00 WIB rombongan mengadakan jamuan makan malam (Barbeque) dan beramah tamah dengan Panitia penyambutan termasuk pengurus DAD dan MADN di Rumah Betang Jl. Sutoyo Pontianak. Acara diisi dengan menyanyi bersama dan karaoke.

Besoknya hari Selasa (22/09), rombongan diterima oleh Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH di Rumah Gubernur. Dan Gubernur berkenan manjamu rombongan untuk makan siang bersama. Pada kesempatan yang berbahagia ini Gubernur mengungkapkan kegembiraannya, dengan adanya kegiatan ini ajang silaturahmi antar etnis DAYAK yang ada di TANAH DAYAK, baik yang dari Sarawak Malaysia maupun yang ada di Kalimantan Barat Indonesia semakin terjalin dengan erat. Gejolak yang terjadi anatar Malaysia dan Indonesia, diharapkan tidak mempengaruhi hubungan etnis DAYAK KALBAR dan DAYAK SARAWAK yang telah terjalin sejak nenek moyang dahulu, dan Beliau mengharapkan kegiatan pertukaran seni dan budaya ini dapat terus dilaksanakan. “Kegiatan seperti ini memang sudah lama kita nantikan. Selain bermanfaat untuk meningkatkan interaksi budaya dan kesepahaman masyarakat DAYAK, juga berguna meningkatkan semangat persatuan sebagai spirit membangun kebersamaan anatara etnis dan Negara”.


Dato Sri William Mawan Anak Ikom dalam sambutannya juga mengungkapkan kegembiraan. Menurut Beliau Kalbar dan Sarawak adalah dua Negara yang berada dalam satu Pulau. Rumpun dan kebudayaan antara kedua belah pihak tidak jauh berbeda, perbedaan hanya pada bendera Negara. “Saya harap dengan adanya DAYAK BORNEO CULTURE HARITAGE SAFARI ini, hubungan antara Sarawak Malaysia dan Kalbar Indonesia semakin erat dan terus terjalin samapi kapanpun”.

Malam harinya bertempat di Hotel Kapuas Palace Pontianak, diadakan serah terima naskah MoU antara MADN dan SDNU, pada kesempatan ini Dato Sri William Mawan Anak Ikom mengatakan, aspek sosial budaya haruslah diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua Negara.

Biarlah orang ribut tentang tari Pendet, angklung dan Ambalat, tapi persatuan antar suku DAYAK biarlah tetap langgeng, kekal dan abadi tanpa melihat batasan Negara. TANAH DAYAK adalah PULAU KALIMANTAN-BORNEO, yang penduduk aslinya adalah Bangsa DAYAK.

Jari Janang Kalalawah.

Jayalah Dayak Selamanya.