Tanah Dayak

Jari Janang Kalalawah Jayalah Dayak Selamanya

Merry Christmas


Kepada seluruh netter's yang mengakses web site TANAH DAYAK, Saya mengucapkan selamat Hari Natal 25 Desember 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010.
TUHAN memberkati kita semua.

Dayak Borneo Cultural Heritage Safari

DAYAK BORNEO CULTURE HERITAGE SAFARI 2009

Sebuah even besar kembali digelar oleh Sarawak Dayak National Union (SDNU) –Malaysia bekerjasama dengan Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) dan Dewan Adat Dayak (DAD)-Indonesia Kalimantan Barat.

Kegiatan ini ialah suatu tour kebudayaan yang dilakukan oleh saudara-saudara DAYAK Sarawak Malaysia dalam melakukan kunjungan ke Kalimantan Barat Indonesia. Sebelum sampai di Kota Pontianak sebagai tempat puncak acara, rombongan yang berjumlah kurang lebih 100 orang dengan 15 kendaraan roda empat mengunjungi terlebih dahulu Kabupaten Sanggau, Landak, Bengkayang, Singkawang dan berakhir di Kota Pontianak.


Hadir dalam acara ini Menteri Pembangunan Urbanisasi Negeri Serawak, Dato Sri William Mawan Anak Ikom, yang menyusul ke Pontianak menggunakan pesawat Jet. Hadir pula Pengurusi Dayak Chamber of Commerce and Industry Tan Sri Dato Amar Leo Moggie Anak Irok, Sekretaris Jenderal SDNU yang juga ketua rombongan Dr. John Brain, Tokoh Dayak Sarawak Dato Daniel Tajem Anak Miri dan Dato Edmund Langgu. Dan tak ketinggalan teman saya yang sangat sibuk mengurus rombongan yaitu Bapak Alim (US BORNEO). Senang sekali dapat berjumpa dengan teman yang selama ini hanya berhubungan lewat Internet (http://dayak_world.ning.com). Boleh bertukar pikiran dan sharing tentang segala macam about Our Tribe “DAYAK”.

Kegiatan berlangsung dari tanggal 18-23 September 2009. Pada tanggal 21 mulai jam 19.00 WIB rombongan mengadakan jamuan makan malam (Barbeque) dan beramah tamah dengan Panitia penyambutan termasuk pengurus DAD dan MADN di Rumah Betang Jl. Sutoyo Pontianak. Acara diisi dengan menyanyi bersama dan karaoke.

Besoknya hari Selasa (22/09), rombongan diterima oleh Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH di Rumah Gubernur. Dan Gubernur berkenan manjamu rombongan untuk makan siang bersama. Pada kesempatan yang berbahagia ini Gubernur mengungkapkan kegembiraannya, dengan adanya kegiatan ini ajang silaturahmi antar etnis DAYAK yang ada di TANAH DAYAK, baik yang dari Sarawak Malaysia maupun yang ada di Kalimantan Barat Indonesia semakin terjalin dengan erat. Gejolak yang terjadi anatar Malaysia dan Indonesia, diharapkan tidak mempengaruhi hubungan etnis DAYAK KALBAR dan DAYAK SARAWAK yang telah terjalin sejak nenek moyang dahulu, dan Beliau mengharapkan kegiatan pertukaran seni dan budaya ini dapat terus dilaksanakan. “Kegiatan seperti ini memang sudah lama kita nantikan. Selain bermanfaat untuk meningkatkan interaksi budaya dan kesepahaman masyarakat DAYAK, juga berguna meningkatkan semangat persatuan sebagai spirit membangun kebersamaan anatara etnis dan Negara”.


Dato Sri William Mawan Anak Ikom dalam sambutannya juga mengungkapkan kegembiraan. Menurut Beliau Kalbar dan Sarawak adalah dua Negara yang berada dalam satu Pulau. Rumpun dan kebudayaan antara kedua belah pihak tidak jauh berbeda, perbedaan hanya pada bendera Negara. “Saya harap dengan adanya DAYAK BORNEO CULTURE HARITAGE SAFARI ini, hubungan antara Sarawak Malaysia dan Kalbar Indonesia semakin erat dan terus terjalin samapi kapanpun”.

Malam harinya bertempat di Hotel Kapuas Palace Pontianak, diadakan serah terima naskah MoU antara MADN dan SDNU, pada kesempatan ini Dato Sri William Mawan Anak Ikom mengatakan, aspek sosial budaya haruslah diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua Negara.

Biarlah orang ribut tentang tari Pendet, angklung dan Ambalat, tapi persatuan antar suku DAYAK biarlah tetap langgeng, kekal dan abadi tanpa melihat batasan Negara. TANAH DAYAK adalah PULAU KALIMANTAN-BORNEO, yang penduduk aslinya adalah Bangsa DAYAK.

Jari Janang Kalalawah.

Jayalah Dayak Selamanya.

Gawai Dayak KALBAR 2009





TITIK KULMINASI DI TANAH DAYAK

Kota Pontianak tepat berada pada garis khatulistiwa (equator) dan ditandai dengan berdirinya tugu khatulistiwa. Titik lintasan equator ini ditemukan oleh para tim ilmuwan Belanda pada tahun 1928 dan pada tahun 1938 “titik” tersebut di renovasi oleh seorang arsitek Indonesia bernama Sylaban. Di Kota ini ada kejadian alam yang sangat menarik dan memang hanya ada di garis khatulistiwa, yaitu Kulminasi (Solar eclipse during the vernal and autumnal equinoxes 21-23 March and September). Dan terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan September setiap tahunnya. Jika matahari bergerak menjelang tengah hari semua benda yang berada disekitar tugu tidak memiliki bayangan, fenomena alam ini berlangsung sekitar 10-15 menit.

Tugu ini juga berdiri persis di tepi sungai terpanjang di Indonesia, yaitu sungai Kapuas (1.143 Km) yang mengalir dari tengah jantung pulau Kalimantan yang dikenal sebagai Tanah Dayak.

GAWAI DAYAK 2009 SIAP DIGELAR

Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (SEKBERKESDA) Kalimantan Barat telah membentuk Panitia Pelaksana Pekan Gawai Dayak tahun 2009. Panitia telah mulai bekerja untuk pelaksanaan acara tersebut.

Tunggu berita dahsyat dari PEKAN GAWAI DAYAK 2009.

Malam Seni Betang Raya

Malam Apresiasi Seni Betang Raya

Sekberkesda (Sekretariat Bersama Kesenian Dayak) Kalimantan Barat bekerja sama dengan lembaga Betang Centre mengadakan malam apresiasi seni selama dua (2) malam berturut-turut, tanggal 07 dan 08 Februari 2009 bertempat di Café Betang kompleks Rumah Adat Dayak Betang Jalan Sutoyo Pontianak.

Dalam acara ini di tampilkan tari-tarian, lagu-lagu Dayak, dan peragaan busana kreasi pakaian tradisional adat Dayak yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu busana yang elegan dan cantik. Acara ini juga didukung oleh Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Kalimantan Barat. Adapun dasar dari pelaksanaan acara ialah penggalangan dana untuk membangun Rumah Adat Dayak Kalimantan Barat yang lebih presentatif, dikarenakan Rumah Adat Betang yang ada sekarang ini tidak lagi mampu menampung berbagai kegiatan besar seperti Gawai Dayak yang setiap tahun menjadi agenda tahunan Sekberkesda.

Gawai Dayak yang setiap tahunnya selalu bertambah ramai, dikarenakan setiap kabupaten yang ada di Kalimantan Barat antusias untuk mengikutinya. Itulah salah satu alasan diadakannya malam apresiasi seni ini,

sebagai malam panggalangan dana guna terwujudnya impian masyarakat Dayak Kalimantan Barat untuk mempunyai rumah adat (Betang) yang juga akan dijadikan sebagai “Dayak Centre”, dimana semua kegiatan kebudayaan dan berkesenian seluruh masyarakat Dayak dapat dipusatkan disuatu areal yang lebih luas dan lebih baik.

CAP GO MEH di TANAH DAYAK


Cap Go berarti lima belas, Meh berarti malam. Cap Go Meh jika secara harfiah dapat diartikan malam ke lima belas. Cap Go Meh menurut tradisi Tionghoa adalah sebagai puncak perayaan atau penutupan rangkaian acara tahun baru IMLEK.
Perayaan Cap Go Meh di Tanah Dayak Kalimantan (Pontianak) diadakan pada tanggal 9 Februari 2009. Pembukaan acara diadakan di Lapangan Keboen Sajoek Pontianak dengan diikuti oleh delapan (8) Naga dari berbagai perkumpulan sosial Tionghoa. Acara juga dimeriahkan oleh Drum Band dari Asosiasi Pemadam Kebakaran Swasta Kota Pontianak dan SMU 1 Pontianak serta tarian dari etnis Dayak, Melayu dan Tionghoa.
Acara dihadiri oleh Wakil Walikota Pontianak dan unsur Muspida lainnya serta tokoh-tokoh masyarakat yang ada di kota Pontianak.


Atraksi naga dimulai dari jam 13.00 di jalan Gajah Mada yang memang ditutup sementara untuk memberi kesempatan kepada Naga-naga unjuk kebolehan. Masyarakat yang hadir berjumlah ribuan orang memadati ruas jalan ini dari Perempatan sebelah barat sampai perempatan sebelah timur.


Banyak turis manca Negara dan domestic yang datang khusus untuk melihat puncak perayaan Cap Go Meh ini, tapi lebih didominasi oleh turis domestic dari pulau Jawa, seperti Surabaya, Semarang, Jogjakarta dan Solo.


Even ini diharapkan dapat menjaring banyak wisatawan dari manca Negara, dan diharapkan juga agar masyarakat kota Pontianak dapat menjaga kondusifitas keamanan sesuai dengan pesan dari Walikota Pontianak.


Pada tanggal 10 February diadakan ritual “Tutup Mata” bagi naga-naga yang telah melaksanakan atraksi, naga-naga tersebut kemudian dibakar di lokasi pemakaman Tionghoa di daerah Kabupaten Kubu Raya sekitar 7 km dari kota Pontianak.